Pembelajaran Mendalam, Harapan Baru Pendidikan di Payakumbuh
*Nofrianti, S.Pd
Pembukaan Pelatihan Pembelajaran Mendalam Batch 1 di Payakumbuh pada 24 Agustus 2025 bukan sekadar acara seremonial pendidikan. Bagi saya, kegiatan yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh bersama Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Sumatera Barat ini adalah sebuah momentum penting: titik tolak menuju perbaikan kualitas guru dan kepala sekolah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Sebanyak 80 tenaga pendidik dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD hingga SMP, terlibat langsung dalam pelatihan ini. Kehadiran 7 fasilitator dari kalangan praktisi dan akademisi menjadi bukti bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Butuh kolaborasi lintas pihak agar pembelajaran tidak berhenti pada teori, melainkan mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Yang menarik, Ketua Komisi C DPRD Payakumbuh, Fitrayanto, SE, menekankan soal moral dan akhlak pemuda. Saya sepakat, karena di tengah derasnya arus digitalisasi, degradasi moral menjadi tantangan serius. Guru tidak cukup hanya mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga harus hadir sebagai teladan karakter. Di sinilah urgensi pelatihan ini: bagaimana tenaga pendidik tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga kuat secara nilai.
Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan, Dr. Dasril, S.Pd, M.Pd, bahwa kegiatan ini adalah “gebrakan untuk menyamakan pandangan antara pemerintah dan legislatif” juga patut diapresiasi. Pendidikan memang tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan politik anggaran dan regulasi. Bila eksekutif dan legislatif sudah selaras, maka jalannya program pendidikan akan lebih mulus.
Saya melihat langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional tentang pembelajaran mendalam. Konsep ini mendorong sekolah agar tidak sekadar mengejar target kurikulum, melainkan benar-benar melahirkan proses belajar yang bermakna. Pertanyaannya, apakah guru kita sudah siap mengubah pola pikir dari sekadar mengajar ke arah mendidik secara utuh?
Harapan besar tentu ada. Namun, tantangannya pun nyata: bagaimana pelatihan ini tidak berhenti pada tataran wacana atau laporan kegiatan belaka. Guru dan kepala sekolah harus mampu menginternalisasi ilmu yang didapat, lalu mengimplementasikannya secara konsisten di kelas masing-masing.
Bagi saya, pelatihan ini adalah awal yang baik. Tapi awal saja tidak cukup. Perlu keberlanjutan, evaluasi, dan komitmen semua pihak agar pendidikan di Payakumbuh tidak hanya “melejit dengan prestasi”, tetapi juga melahirkan generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar soal mencetak juara kelas, tetapi membentuk manusia seutuhnya.
*Guru IPS SMP N 7 Payakumbuh
Opini Terkait
Wawancara Eksklusif: Pelaku UMKM Digital Bertahan di Tengah...
Resensi - 25 Juni 2025
Oleh: Dewi Kartika





